CALL CENTER
HUMAS YPID
0878 3636 4848
info@ypid.or.id

PARA PENEMBUS KABUT

(Bagian Pertama dari Tiga Tulisan Tentang “Ekspedisi Gunung Prau Tim YPID Surakarta”)

 

Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji  hanya bagi  Allah SWT akhirnya kegiatan tadabbur alam ekspedisi Gunung Prau oleh tim Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro Surakarta (YPID) dalam rangka milad ke-90 dan juga untuk merayakan HUT RI ke-73 telah selesai dilaksanakan.

Sebanyak 14 orang pendaki YPID sesuai dengan rencana pada tanggal 23 & 24 Agustus 2018 telah berhasil mencapai puncak Gunung Prau sekaligus secara simbolis melakukan upacara seremoni penyatuan harapan dan doa siswa-siswi dari PAUD, SD, SMP dan SMA yang telah mereka tuliskan sebelumnya dalam selembar spanduk pada saat upacara peringatan HUT R1 ke-73 disekolah masing-masing.

 

persiapan, pengarahan dan doa bersama sebelum perjalanan

 

Meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan rencana semula, seperti keterlambatan perjalanan dan cuaca yang kurang mendukung diawal pendakian namun secara umum pelaksanaan kegiatan ini berjalan dengan lancar dan tanpa kendala yang berarti dari keberangkatan hingga tim dengan selamat kembali ke kota Solo. Sehingga kegiatan yang bertema “Merajut Kebersamaan Menyatukan Harapan” benar-benar membawa kesan tersendiri bagi seluruh anggota tim.

 

Tim pendakian  YPID sesuai yang direncanakan berangkat dari kantor yayasan pada tanggal 23 Agustus 2018 pukul 07.00 WIB. Acara dibuka dengan pengarahan dari Bp.Fikri Nahdi dan dilanjutkan oleh Bp.Abubakar Husein sekaligus memimpin doa bersama sebelum keberangkatan. Dengan mengendarai armada minibus seluruh anggota tim meninggalkan kota Solo menuju Kota Temanggung dengan melakukan pemberhentian pertama di Rumah Makan di daerah Pringsurat untuk makan siang. Rumah makan yang juga milik mertua dari Pak Tarman ini menyajikan aneka masakan yang lengkap dan lezat serta juga letaknya strategis untuk tim guna melakukan persiapan terakhir sebelum menuju area Gunung Prau.

 

Sekitar pukul 11.30 WIB tim mulai bergerak menuju kota Temangung yang selanjutnya akan melewati daerah Parakan dan direncanakan akan melalui jalan pintas didaerah perkebunan teh Tambi yang akan langsung menuju basecamp Gunung Prau di desa Wates. Namun berdasar informasi yang diterima jalan pintas ini sedang mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga diputuskan untuk melewati jalur normal melalui kota Wonosobo. Perubahan rute ini akhirnya berdampak dijumpainya kemacetan lalu lintas selama perjalanan dan membuang waktu yang cukup banyak. Setelah sempat berhenti di masjid untuk sholat dhuhur dan sholat ashar akhirnya tim sampai juga di Pasar Kejajar Wonosobo yang merupakan jalan masuk menuju basecamp. Alhamdulillah akhirnya tim berhasil sampai di basecamp Gunung Prau di desa Wates pada pukul 15.00 WIB meski mundur  2 jam dari yang direncanakan.

 

Singgah sejenak di rumah makan di daerah Pringsurat – Temanggung

 

14 anggota tim pendaki YPID yaitu Pak Abubakar Husein, Pak Fikri Nahdi, Pak Tarman, Pak Ahmadi, Pak Wawan Romansyah, Pak Nur Julianto, Pak Yoga, Pak Toni, Pak Yohan, Pak Kharis, Pak Marno,, Pak Aji, Pak Gus Anwar, Pak Momoh. Sedang Pak Zamzam bertugas standby di basecamp dan seorang guide ikut mendampingi yaitu Pak Aris.

 

Setelah melakukan berbagai persiapan dan juga melapor kepada  petugas yang berjaga di basecamp maka tim segera bergegas memulai proses pendakian pada pukul 15.45 WIB.  Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan ditandai turunnya kabut disekitar basecamp namun tidak menyurutkan semangat dari seluruh peserta pendakian. Tim pendakian terbagi menjadi dua kelompok dimana kelompok pertama yang dipimpin oleh seorang guide  berpengalaman yang bernama Pak Aris melakukan pendakian terlebih dahulu kemudian tim kedua dipimpin oleh Pak Tarman selaku ketua rombongan yang menyusul kemudian.

 

suasana basecamp dan persiapan memulai pendakian

 

Perjalanan menuju POS 1 Blumbang Kodok dari basecamp harus dilewati dengan menggunakan ojek hal ini dikarenakan pertimbangan waktu yang sudah menjelang senja dimana tim harus bisa sampai dipuncak sebelum malam agar tidak terlalu gelap diperjalanan menuju puncak. Jasa ojek ini memang sudah disediakan oleh masyarakat disekitar Gunung Prau. namun  jangan dibayangkan ojek ini senyaman Gojek atau Grab,  selain sepeda motor yang memang sudah didesain khusus untuk kuat melaju kencang di pegunungan juga pengemudinya adalah para remaja yang memang sudah terlatih untuk meliuk-liuk menyusuri bukit-bukit terjal berbatu dengan lembah dan jurang dikanan-kirinya !

 

 

Saat awal perjalanan menuju pos 1 ini meski udara dingin menyelimuti kami tim YPID disuguhi sebuah pemandangan kehangatan suasana rumah penduduk yang memiliki kekhasan tersendiri ala rumah-rumah sederhana di pegunungan. Terkadang dengan melewati gang-gang sempit yang tidak lebih dari 1 meter  lebarnya banyak kami jumpai anak-anak kecil sedang bermain di sore hari itu.  Setelah melewati rumah-rumah penduduk kami mulai melewati jalan yang sangat menanjak melewati bukit-bukit dan lembah-lembah hijau yang ditanami dengan aneka sayuran seperti kentang, kubis dll.

 

Seiring dengan kabut yang semakin tebal dan suhu yang semakin dingin kami bisa menyaksikan lembah jurang yang cukup dalam ada di kanan-kiri kami. Setelah dibuat tegang dan sport jantung oleh pengemudi ojek selama 10 menit akhirnya semua anggota tim berhasil sampai di POS1 Blumbang Kodok dimana perjalanan dengan ojek memang harus diakhiri karena medan yang sudah tidak mungkin lagi dilalui sepeda motor.

 

Kabutpun semakin tebal dan jalan setapak didepan tampak sangat terjal mendaki. Disinilah ujian kekuatan fisik yang sebenarnya dimulai terutama untuk mereka para pendaki pemula. Dengan beban bawaan tas ransel sekitar 10 kg dan jalan mendaki serta kabut yang pekat tak ayal lagi baru berjalan sekitar 5 menit saja nafas sudah terasa berat dan tersengal-sengal. Meski diawal pendakian ada kekecewaan karena cuaca yang tidak bersahabat sehingga harapan untuk dapat melihat sunset / matahari tenggelam tidak bisa dilakukan namun akhirnya kami justeru bersyukur bahwa dengan kondisi kabut saat pendakian seperti ini merupakan sensasi dan pengalaman yang mahal dan jarang didapat. Inilah perjalanan “Para Penembus Kabut !!!”

 

perjalanan para penembus kabut menuju puncak gunung prau

 

Singkat cerita setelah beberapa kali berhenti untuk beristirahat akhirnya sampai juga kami di POS 2 Cemaran. Semula banyak dari kami mengira bahwa yang dinamakan POS 2 seperti halnya basecamp dimana ada semacam bangunan untuk berteduh dan melepas lelah. Ternyata POS 2 hanyalah sebuah papan bertuliskan “POS 2 Cemaran  2122 mdpl” yang menginformasikan bahwa ketinggian POS2 terletak di 2122 meter diatas permukaan laut (mdpl).

 

Sambil menunggu beberapa anggota yang tertinggal dibelakang sebagian dari kami coba untuk melepas lelah merebahkan diri ditanah guna mengembalikan tenaga sambil membuka bekal makanan dan minum yang kami bawa serta tentu saja tidak lupa untuk megabadikan beberapa moment dengan kamera dan HP masing-masing.

 

Jam telah menunjukan pukul 16.30 WIB saat seluruh anggota tim kelompok 2 bergerak menuju ke POS 3 Sudung Dewo. Perjalanan menuju POS 3 ditandai dengan jarak pandang yang semakin terbatas, tidak lebih dari 5 meter !. Sesuai dengan informasi yang didapat perjalanan menuju POS 3 ini sebenarnya tidak terlalu panjang dan cukup datar jadi ini cukup memberikan motivasi kepada anggota tim untuk segera melanjutkan perjalanan. Memang seperti yang diinformasikan bahwa perjalanan tidak seberat dari POS 1 ke POS 2 namun tetap saja karena fisik sudah terkuras di perjalanan sebelumnya maka perjalanan menuju POS 3 tetap saja melelahkan. Namun untungnya sesama anggota tim tetap saling menyemangati dan sesekali saling bercanda untuk mengusir rasa lelah.

 

Istirahat sejenak di Pos 3 Sudung Dewo 2375 mdpl

 

Disinilah jarak antar beberapa anggota tim mulai saling berjauhan terpisah. Sehingga tidak jarang ada yang berjalan sendirian menyusuri jalan setapak yang kadang tertutup dengan rumput tebal dan batang pohon-pohon yang tumbang.

 

Subhanallah ….. saat itulah ditengah suasana yang sunyi dan dingin terdengar berbagai suara alam yang saling bersahutan seperti suara burung, suara aneka serangga hutan, suara hembusan angin yang masih terus menghadirkan kabut dan juga sesekali terdengar suara nafas kami yang semakin terasa berat.

 

Akhirnya sampai juga kami di POS 3 Sudung Dewo, seperti halnya POS 2 maka POS 3 ini hanyalah sebuah papan yang bertuliskan POS 3 Sudung Dewo 2375 mdpl yang artinya beda ketinggian dengan POS 2 adalah 253 meter atau ibarat Gedung bertingkat 80 lantai ! Dan  juga yang membedakan dengan POS 2, area disekitar POS 3 cukup lapang.

 

Setelah melepas lelah dan mengambil beberapa gambar dan video kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sesuai informasi perjalanan dari POS 3 menuju camp area dan puncak ini adalah yang terberat karena meski jarak tidak terlalu jauh tapi rute perjalanan akan menanjak terus dan harus ekstra hati-hati karena jurang ada di kanan kiri !!!.

 

Kabut juga sudah semakin tebal dan bahkan mulai membasahi muka sehingga sebagian dari kami mengira ini adalah tetesan air hujan sehingga kamipun segera mengeluarkan mantol jas hujan dan penutup tas agar tidak basah. Jarak pandang juga semakin dekat lagi tidak lebih dari 3 meter !.

 

Dan sesuai petunjuk sebelum pendakian agar kami membawa botol-botol kosong karena di POS 3 ini kami bisa mengambil air dari mata air pegunungan yang begitu segar dan sangat dingin untuk selanjutnya dibawa ke Camp Area untuk bekal memasak, membuat minuman kopi, teh dan keperluan lainnya. Setelah mengambil air maka tantangan pertama jalan menuju camp area dan puncak mulai menghadang.

 

Jalan setapak didepan sangat menanjak dan tidak tampak ujungnya ! Ini yang sering disebut oleh para pendaki Gunung Prau sebagai “Tangga Cinta”. Meski belum diketahui asal-usulnya mungkin ini sebagai penyemangat bagi pendaki untuk bisa melewati rintangan berat ini sebelum sampai di bukit yang dinamakab “Bukit Rindu”

 

Lalu bagaimana keseruan perjalanan menuju camp area dan puncak Gunung Prau dengan melewati Tangga Cinta dan Bukit Rindu? bagaimana rasanya makan malam dipuncak gunung dengan menu nasi bungkus serasa makan es batu ? dan tentunya bagaimana perasaan  menikmati sajian keindahan dan harmoni alam The Golden Sunrise” dari Sang Maha Pencipta.

 

Nantikan kelanjutan cerita berikutnya….dibagian ke-2 kisah ini ……

 

Bagian ke – 2 : Habis Kabut Terbitlah Dingin

 

(bersambung)

 

 

Leave a Reply