CALL CENTER
HUMAS YPID
0878 3636 4848
info@ypid.or.id

HABIS “KABUT” TERBITLAH “DINGIN”

(bagian ke-2 dari tiga tulisan tentang “Ekspedisi Gunung Prau Tim YPID Surakarta”)

 

 

Seperti telah diceritakan pada kisah sebelumnya ( baca : “Para Penembus Kabut”) tim pendaki YPID telah berhasil sampai di Pos 3 Sudung Dewo dan selanjutnya akan menuju ke camp area dan puncak Gunung Prau.  Ketika tim pendaki mulai bergerak jam sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB selain cuaca yang sangat berkabut maka pada saat itu area pendakian juga semakin gelap karena menjelang malam tiba. Tantangan pertama yang dihadapi oleh tim pendaki adalah jalur menanjak yang diberi nama sebagai Tangga Cinta, pemberian nama ini masih belum kami pahami apa maksudnya, namun yang jelas Tangga Cinta ini adalah jalan menanjak kurang lebih sekitar lebih dari 100 meter panjangnya dengan jurang yang cukup dalam yang ada di sisi kanan kami. Sebenarnya pada saat pendakian ini kami yang baru pertama kali ke Gunung Prau tidak mennyadari bahwa di sisi kanan dari Tangga Cinta ini adalah jurang yang cukup dalam karena pada saat itu suasana sudah mulai gelap dan tertutup kabut yang tebal.  Kami baru menyadari bahwa di sisi kanan dari Tangga Cinta ini adalah jurang saat kami turun dari pendakian di esok harinya.  

Rute pendakian melewati Tangga Cinta ini termasuk yang sangat melelahkan terutama untuk para pemula seperti kami sehingga kami harus beberapa kali berhenti untuk beristirahat.  Setelah melewati Tangga Cinta yang terasa begitu panjang ini sampailah kami di sebuah bukit yang diberi nama Bukit Rindu yang berada di sebelah kiri dari jalur pendakian. Bukit Rindu ini termasuk area yang juga diminati oleh para pendaki Gunung Prau untuk mendirikan tenda karena lokasinya yang cukup strategis juga untuk menyaksikan sunrise atau matahari terbit di pagi hari meskipun lokasi Bukit Rindu masih berada dibawah puncak Gunung Prau.  Namun demikian pada saat kami melakukan pendakian, area Bukit Rindu dalam keadaan kosong karena memang saat tim YPID melakukan pendakian bukanlah pada saat hari libur umum ataupun akhir pekan.

 

Hal ini juga yang sebenarnya menjadikan pendakian yang dilakukan oleh tim YPID memberikan suasana yang cukup nyaman.  karena jika pada saat hari libur umum atau akhir pekan Gunung Prau termasuk area pendakian yang ramai dan menjadi favorit para pecinta alam atau pendaki gunung terutama untuk mereka para pemula. Selain itu pemilihan jalur pendakian melalui Desa Wates juga sudah kami perhitungkan selain jalur ini bukan jalur utama sehingga tidak begitu ramai dilewati oleh para pendaki, juga informasi yang kami terima jalur ini termasuk jalur yang memiliki pemandangan yang sangat indah.  Jalur lain yang sering digunakan oleh para pendaki Gunung Prau adalah Jalur Patak Banteng. 

 

Ketika kami beranjak meninggalkan di Bukit Rindu suasana sudah semakin gelap karena senja sudah semakin beranjak berganti malam.  Sebagian dari kami mulai mengeluarkan alat penerangan berupa lampu senter untuk membantu jalannya pendakian selanjutnya, namun demikian karena pendakian yang kami lakukan adalah pada tanggal 11 Dzulhijah, saat hari pertama hari Tasyrik setelah Idul Adha, maka  suasana malam tidaklah begitu gelap gulita karena adanya cahaya bulan dan bintang yang meskipun pada saat itu masih belum masuk bulan purnama dan juga cahayanya masih terhalang oleh kabut namun bisa kami rasakan manfaatnya.  Perjalanan menuju ke camp area dan puncak Gunung Prau sudah semakin dekat hal ini bisa kami rasakan ketika  akhirnya untuk pertama kalinya kami menjumpai sebuah tenda yang didirikan oleh rombongan pendaki lain. 

 

Hal inilah yang memberikan semangat kepada kami untuk dengan sisa-sisa tenaga yang ada untuk segera mencapai area dan puncak gunung Prau. Dan Alhamdulillah akhirnya tidak lama berselang sekitar pukul 18.15 WIB kami pun sampai di kawasan camp area dan puncak Gunung Prau dan berjumpa dengan rombongan tim pendaki YPID yang pertama yang telah berjalan mendahului kami sejak dari basecamp. Layaknya sebuah rombongan yang tidak berjumpa cukup lama kami pun akhirnya saling memberikan selamat satu dengan yang lain dan saling berbagi aneka kisah keseruan selama perjalanan menuju puncak. Seperti halnya POS 1 , 2 dan 3 di Camp Area dan Puncak Gunung Prau ini terdapat sebuah tanda yang sama  terbuat dari patok kayu bertuliskan “Camp Area Cemoro Tunggal 2565 mdpl” yang menunjukan bahwa puncak ketinggian Gunung Prau adalah 2565 di atas permukaan laut.

 

Karena hari yang semakin malam dan suhu udara yang sangat dingin akhirnya kami pun segera bergegas untuk mendirikan tenda. Di kawasan puncak inilah yang tidak begitu banyak pohon kami bisa merasakan bagaimana angin bertiup sangat kencang. Sehingga kami harus saling bahu membahu untuk segera mendirikan tenda yang terkadang tampak seperti mau kabur tertiup angin. Seperti yang direncanakan sebelumnya kami mendirikan 4 buah tenda di mana 3 buah tenda besar yang bisa diisi oleh empat sampai lima orang dan sebuah tenda kecil yang bisa berisi 2 orang.  Untunglah kami didampingi oleh guide/porter dan juga beberapa teman yang sudah berpengalaman dalam mendirikan tenda di puncak gunung, sehingga tanpa memerlukan waktu yang cukup lama berhasil didirikan 4 buah tenda yang berlokasi saling berdekatan satu dengan yang lain.  

 

Pendirian Tenda di Camp Area Cemoro Tunggal Gunung Prau 2565 mdpl

 

Setelah itu sebagian dari kami  mulai berpikir untuk membuat makanan atau minuman yang dapat menghangatkan tubuh untuk melawan suhu yang sangat dingin. Namun demikian dikarenakan perut yang sudah begitu lapar maka sebagian dari kami pun tanpa berpikir panjang dan bersedia menunggu proses untuk menghangatkan nasi bungkus dengan alat pemanas tapi langsung menyantap begitu saja nasi lauk ayam yang memang sudah disiapkan dari rumah makan di siang hari tadi.  Kami begitu terkejut ketika membuka pertama kali nasi bungkus tersebut  kondisinya sudah begitu dingin sekali ibarat sebuah makanan yang disimpan di dalam freezer lemari es.  Bahkan secara bergurau kami merasakan daging ayam yang seharusnya begitu lezat dan empuk untuk dinikmati menjadi serasa seperti es batu karena selain begitu keras juga dingin sehingga terasa ngilu di gigi saat dikunyah. 

 

Namun disinilah justru kami dapat menemukan kenikmatan yang luar biasa selain kebersamaan yang tercipta sesama anggota tim pendakian kami pun bisa mengambil sebuah pelajaran apapun makanan yang disajikan ketika dimakan dalam keadaan perut lapar akan terasa begitu nikmat. Tentu ini sejalan dengan perintah Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya yang memerintahkan kita untuk makan saat mulai lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.

 

Dan ditengah-tengah kami menikmati kebersamaan makan malam yang unik ini tiba-tiba cahaya begitu terang mendatangi kami. Subhanallah …. ternyata kabut tebal yang menemani kami saat pendakian mulai menghilang dan bulan mulai tampak begitu terang dan dekat sekali serta bersanding dengan jutaan bintang bertebaran dilangit. Kamipun merasa bahwa tadabbur alam ini benar-benar lengkap rasanya. Meskipun sebenarnya kami masih cukup deg-degan karena dari informasi yang kami terima bahwa saat yang paling dinantikan oleh para pendaki Gunung Prau untuk menyaksikan Golden Sunrise yang melegenda itu tidaklah selalu bisa dinikmati karena sangat mungkin cuaca tidak mendukung dipagi hari meskipun dimalam harinya cuaca cerah seperti malam itu.

 

Kebersamaan Menikmati Malam di Camp Area Gunung Prau

 

Setelah acara makan malam selesai sebagaian dari kami mulai menata dan meletakan barang-barang di tenda masing-masing dan sebagian mulai melakukan sholat maghrib dan isya secara berjamaah. Saat sholat inilah karena ketersediaan air yang terbatas kami memutuskan untuk bertayamum sehingga kami harus melepas kaos tangan dan juga penutup wajah dan kepala atau yang dikalangan pendaki disebut dengan sebo/kupluk yang sedari tadi menjadi atribut pengusir suhu dingin. Saat melepas penutup kepala dan kaos tangan inilah kembali kami bisa merasakan bahwa suhu udara di puncak sudah semakin dingin. Alhamdulillah kami merasakan begitu khusyuknya sholat di alam terbuka di puncak gunung dengan langit yang cerah dan suhu yang sangat dingin. Ini sebuah pengalaman langka yang menjadikan kami patut bersyukur mengikui kegiatan ini.

Camp Area Cemoro Tunggal Gunung Prau 2565 mdpl

 

Setelah selesai sholat sebenarnya kami merencanakan ada beberapa agenda bersama di alam terbuka namun dikarenakan kondisi fisik yang begitu lelah dan suhu dingin yang kami rasakan akhirnya acara malam itu lebih menjadi “acara bebas” yang disesuaikan kebutuhan masing-masing anggota. Ada yang sebagian anggota yang ngobrol didalam tenda, ada juga yang langsung tidur dan ada juga yang tetap berada diluar tenda sambil saling ngobrol ditemani oleh segelas kopi panas ataupun pop mie. Namun yang unik segelas kopi atau popmie panas ini dalam waktu tidak lebih dari lima menit sudah menjadi dingin jadi seperti halnya kami menikmati segelas es kopi ! Sehingga kalimat yang bisa menggambarkan suasana yang kami hadapi adalah “Habis Kabut Terbitlah Dingin !”

 

 

Sebagian dari kami ada juga yang mencoba berjalan menyusuri area camp area yang sepi dari pendaki lain dimalam itu. Saat itulah kembali kami dibuat terkesima seraya bertasbih karena didepan kami ternyata tampak menjulang samar-samar bayangan kehitaman dua buah gunung yang tampak begitu dekat dan besar sekali dan  dibawahnya tampak sangat jauh sekali kerlap-kerlip lampu-lampu yang menyala di daerah pedesaan disekitar Gunung Prau. Subhanallah….. sangat indah sekali.

 

Akhirnya suhu dingin dan angin yang terus kencang berhembus tampaknya berhasil memaksa kami untuk segera masuk ke dalam tenda masing-masing. Sebagian dari kami harus segera menggunakan berbagai atribut tambahan untuk pengusir  dingin, seperti menggunakan jaket dan sweater dobel sekaligus dan bahkan celana training juga harus didobel demi kenyamanan saat tidur dimalam hari. Dan tentu saja tidur malam harus menggunaakan sleeping bag atau sebutan yang umum bagi para pendaki adalah SB yang memang sudah disiapkan masing-masing untuk satu orang anggota pendaki. Tampaknya informasi yang kami terima bahwa pendakian dibulan Agustus saat puncak musim kemarau adalah saat suhu pada titik terdinginnya bukanlah berita hoak karena kami yang sudah didalam tenda dengan menggunakan lapisan ganda (double layer) dan dengan berbagai atribut pengusir dingin termasuk bersembunyi didalam SB masih tetap merasa kedinginan.

 

Berbagi Kisah, Menghalau Dingin, Menjemput Kantuk Di Puncak Gunung Prau

 

Bahkan saat menjelang tengah malam dari dalam tenda kami bisa melihat air yang berasal dari kabut atau embun yang menempel di bagan atas tenda dan mengalir merayap turun dengan deras menuju kebagian bawah tenda meskipun diluar cuaca tidak dalam keadaan hujan !. Dan yang yang lebih membuat suasana lebih terasa luar biasa adalah tiupan angin yang terus menerus berhembus dan menggoyang bagian atas tenda kami disertai dengan deru suara yang kencang dan berulang-ulang. Dan sebuah sensasi lain adalah ketika kami berbicara maka tampak seperti asap keluar dari mulut kami, hal ini seperti yang sering kami saksikan di film-film Eropa atau Hollywood disaat musim salju !

 

Ini yang membuat kami masih penasaran malam itu berada di suhu berapa yang sebenarnya karena seluruh anggota pendakian tidak ada yang membawa alat pengukur suhu. Namun akhirnya rasa penasaran inipun terjawab saat tengah malam ada dari anggota pendakian yang keluar tenda dan berjumpa dengan anggota pendaki lain yang baru tiba dipuncak dan mendirikan tenda disamping tenda kami. Menurut alat pengukur yang mereka bawa ternyata tengah malam saat itu menunjukan suhu 2 derajat celcius ! atau hanya selisih 2 derajat mendekati titik 0 derajat celcius !. Subhanallah ….. memang tidak heran karena dari informasi yang didapat di basecamp bahwa beberapa saat yang lalu didaerah sekitar Gunung Prau seperti halnya didaerah Pegunungan Dieng sampai turun salju atau lapisan es tipis karena dinginnya suhu udara di bulan Agustus ini yang diyakini sebagai puncak musim kemarau sebelum datangnya musim penghujan di bulan September.

 

Akhirnya setelah tidur dan beristirahat dengan kondisi suhu udara yang extreme seperti malam itu maka datanglah waktu fajar. Tampaknya sebagian dari kami sudah terlebih dahulu bangun karena terdengar suara obrolan dan diselingi candaan didalam tenda masing-masing. Segera saja kami semua bergegas bangun dan melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Seperti halnya saat sholat maghrib dan isya , sholat shubuh di alam terbuka dipuncak gunung nan dingin seperti ini tentu pengalaman yang sangat berharga dan tidak mungkin kami lupakan.

05:15 WIB / 240818 Camp Area Cemoro Tunggal Gunung Prau 2565 mdpl

 

05:17 WIB / 240818 Camp Area Cemoro Tunggal Gunung Prau 2565 mdpl

 

05:22 WIB / 240818 Camp Area Cemoro Tunggal Gunung Prau 2565 mdpl

 

Setelah itu kamipun segera bersiap-siap untuk menyambut datangnya matahari pagi. Alhamdulillah Allah SWT tampaknya benar-benar memanjakan kami dengan berbagai kemudahan karena cuaca saat fajar saat itupun masih cerah seperti malam tadi dan disebelah timur dikejauhan warna langit tampak samar-samar mulai menjadi orange keemasan.

Lalu Apakah Golden Sunrise benar-benar bisa kami nikmati ? Dan apa keseruan dan perasaan yang terjadi ketika kami akhirnya bisa menyatukan berbagai tulisan harapan-harapan seluruh siswa-siswi Diponegoro di Puncak Gunung Prau yang menjadi salah satu tujuan pendakian ini ?

 

Bagaimana perjalanan turun kembali basecamp sambil menikmati indahnya “lukisan alam semesta karya Sang Maha Pencipta ? Ikuti tulisan selanjutnya……

baca dan lihat lebih banyak foto dan video menakjubkan di tulisan terakhir tentang “Ekspedisi Gunung Prau Tim YPID Surakarta”

 

Exclusive 8 minutes video “The Golden Sunrise” only on the last article !!!

 

(bersambung)

 

 

 

 

 

Leave a Reply