CALL CENTER
HUMAS YPID
0878 3636 4848
[email protected]

Menghitung Perkalian dengan Metode BAPER

pembelajaran Matematika Kelas IX

 

Menghitung Perkalian dengan Metode BAPER

 

Materi : Perkalian dengan Metode BAPER

 

Tujuan :

  1. Memberikan motivasi belajar bagi siswa untuk tertarik belajar matematika
  2. Melatih siswa dengan pembuatan alat peraga terbimbing
  3. Melatih kemampuan kreativitas siswa menemukan konsep sendiri
  4. Pembelajaran akan terasa menyenangkan, belajar lebih variatif, belajar lebih riil

 

Karakter yang dikembangkan : Kerjasama, Tanggung jawab, Ketelitian, Kreativitas, Kejujuran, Keberanian untuk presentasi

 

Alat dan bahan : kertas, Kardus, gunting, lem, penggaris, spidol, pensil, Batang Lidi

 

Latar Belakang :

Siswa merasa kesulitan menghitung 1312 * 1231 ? atau hanya mampu menghitung perkalian cepat untuk 3 digit * 3 digit? Kalau iya, mari kita belajar dari metode BAPER

 

Sebelum melihat cara nya, mari kita siapkan dulu:

Kertas dan Pensil. Berhitung secara manual tidak akan terlepas dari kedua alat ini.

Kemauan untuk belajar hal baru. Tanpa adanya hal ini, anda tidak akan pernah belajar hal baru.

Kemampuan berhitung penjumlahan. Karena pada cara ini, diperlukan kemampuan untuk menghitung penjumlahan dengan baik.

 

Okey, cara berhitung nya mudah, siswa hanya perlu menyiapkan batang lidi untuk membuat beberapa garis, kemudian melakukan penjumlahan terhadap titik potong garis tersebut

 

Metode Baper (Batang Perkalian) pada dasarnya adalah “mewakilkan” angka yang akan dikalikan dengan garis. Satu satuan dengan satu garis.

Jadi untuk angka 1 akan diwakili dengan 1 garis. Angka 2 diwakili dengan 2 garis, dan seterusnya.

 

  • Kemudian garis yang mewakili disusun mendatar ( horisontal ) secara terpisah untuk angka perkalian pertama dan garis membujur ( vertikal ) terpisah untuk angka perkalian kedua

 

  • Hasil dari perkalian tersebut didapat dengan cara menghitung jumlah persilangan garis horisontal dan vertikal pada setiap pojok-pojoknya.

 

  • Jumlah persilangan garis di bagian pojok kiri atas mewakili angka ratusan.

Jumlah persilangan garis di bagian pojok kanan atas dan kiri bawah mewakili angka puluhan.

Sedangkan jumlah persilangan garis di bagian pojok kanan bawah mewakili angka satuan

 

Langkah Pembelajaran :

1.Guru menyampaikan kompetensi yang hendak dicapai kepada siswa pada awal pembelajaran (Lesson Plan)

2.Guru mengemukakan terlebih dahulu konsep yang akan dipelajari

3.Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok kecil

  1. Guru memfasilitasi media pembelajaran yang digunakan untuk memecahkan masalah.
  2. Guru membantu siswa dalam berbagi tugas untuk menyelesaikan masalah, siswa mendengarkan dan melaksanakan saran guru dan siswa dapat bertanya kepada guru jika ada hal yang belum jelas.
  3. Guru meminta siswa untuk menyelesaikan tugas pemecahan masalah membimbing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggali dan menuntun agar siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang ada pada tugas yang diberikan.

7.Setelah pengerjaan  membuat alat peraga selesai, guru meminta kelompok siswa untuk mempresentasikan hasil kerja alat peraga mereka, dengan power point.

  1. Terwujudnya hasil produk kreativitas siswa dalam pembuatan alat peraga matematika
  2. Guru memberikan motivasi melalui filosofi dari lidi
  3. Sapu lidi adalah alat kebersihan yang selalu ada di rumah setiap orang. Mulai dari orang kaya atau orang yang hidup berkecukupan. Sapu lidi sangat mudah dibuat. Dengan berbahan dasar lidi atau Batang dari daun kelapa. Sapu lidi menjadi alat andalan bagi kita untuk membersihkuan halaman hingga tempat lain yang butuh perawatan

Sapu lidi memberikan filosofi jika kita bersatu Maka segala rintangan bisa diatasi, kita menyapu hanya dengan menggunakan sebatang lidi tentu susahnya minta ampun. Apalagi sampah yang akan  dibersihkan cukup banyak. Tentu semua itu tidak bakalan terjadi bila kalian menggunakan sapu lidi yang merupakan kumpulan beberapa Batang lidi diikat jadi satu. Dengan jumlah yang mencukupi maka kekuatan lidi itu akan bertambah sehingga sanggup membersihkan sampah.

 

Sama halnya dengan kehidupan kita saat ini. Apabila kita senantiasa berusaha bekerja sama maka berat akan terasa ringan. Pekerjaan sulit akan dengan mudah diselesaikan. Meskipun sekarang ini bisa kita lihat, masyarakat sudah mulai meninggalkan kebiasaan bergotong royong. Kebiasaan yang saling membantu sama lain di dalam mengerjakan tugas. Kebiasaan ini masih ada dibeberapa daerah. Salah satunya di desa saya sendiri. Yang terpenting semoga persatuan di dalam berbangsa dan bernegara kita masih tetap kokoh.

 

2.Sapu lidi memberikan filosofi “semakin tua sapu lidi semakin pendek, namun samakin kokoh”

Sapu lidi bila digunakan setiap hari untuk menyapu sampah, maka lambat laun sapu lidi akan semakin pendek. Walaupuun pendek, ternyata sapu lidi memiliki keunikan, ia akan semakin kokoh, kuat dan kaku. Sehingga bisa menyapu sampah dengan mudah karena sapu lidi tidak lemah gemulai.

 

Sama halnya didalam kehidupan ini. Sampah adalah masalah yang dihadapi dalam hidup. Bila kita sering menghadapi masalah dan bisa melaluinya dengan sabar maka kita akan menjadi sosok pribadi yang kuat. Sama halnya dengan sapu lidi yang sering dipakai. Semakin tua semakin kokoh.

 

Sapu lidi memang memberikan sebuah filosofi yang tinggi dalam hidup ini. Bila kita mau menggali dan menyadarinya maka niscaya kebijakan akan mengalir dalam hidup kita.

 

Marilah kita menjalani kehidupan ini dengan semangat dan jangan sering mengeluh. Hidup adalah kewajiban maka menjalaninya adalah sebuah keharusan

Leave a Reply