CALL CENTER
HUMAS YPID
0878 3636 4848
[email protected]

Strategi TEPA TULADHA di PAUD Terpadu Islam Diponegoro

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidkan karakter yang menjadi tujuan utama terbentuknya generasi penerus bangsa yang meneruskan estafet perjuangan dalam mengisi kemerdekaan RI ini harus menjadi prioritas di semua lembaga PAUD.

PAUD Terpadu Islam Diponegoro yang berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro Surakarta merupakan salah satu bagian dari masyarakat yang ingin turut berperan membangun generasi handal untuk NKRI tercinta..

Dalam rangka mewujudkan itu semua dibutuhkan sebuah menajemen pengelolaan lembaga PAUD dengan memaksimalkan potensi lingkungan yang ada baik internal; termasuk guru – guru PAUD maupun eksternal; dari orangtua anak didik juga tokoh masyarakat, sampai pada pemanfaatan limbah plastik di lingkungan PAUD Terpadu Islam Diponegoro.

Di tempat penyusun mengabdikan diri, keadaan tahun pelajaran 2017/ 2018 semester ke 1 (awal diangkatnya penyusun sebagai kepala PAUD Terpadu di PTI Diponegoro) berdasarkan hasil pemantauan, monitoring dan evaluasi terhadap guru PAUD Terpadu Islam Diponegoro yang meliputi : kompetensi kepribadian, sosial, profesional dan paedagogik (nilai kinerja) juga orientasi pelayanan, integritas, komitmen, displin, kerjasama antar guru serta kepemimpinan (Nilai perilaku kerja) terdapat hasil yang masih dibawah harapan. Guru  yang memperoleh  nilai 3 ke atas baru mencapai 26%; ini dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Tabel 1. Nilai Guru PTI Diponegoro Semester 1 TA 2017/2018

Sumber : Dokumen penilaian PTI Diponegoro

 No Nama Guru Nilai Kinerja Nilai perilaku kinerja
1 Nadhiroh Ibrahim,SPd 3,1 3,0
2 Tri Lastari, S.Pd 3,6 3,5
3 Ifana Rahmawati, S.Pd 2,8 2,9
4 Juli Sumanti Ambar Wati, S.Pd 2,7 2,6
5 Sunarjo, S.Pd 2,6 2,8
6 Nikmah Rodhi, SPd 2,4 2,6
7 Eva Ratnasari, SPd 3,4 3,2
8 Siti Zulaikhah, S.Sn 2,8 2,7
9 Nabilah Baraja 2,4 2,2
10 Ninik Yuniati 2,5 2,6
11 Sakinah,SPd 2,4 2,4
12 Nunung Ella A. Rini,SPd AUD 2,6 2,4
13 Tarika,MPsi, Psi 3,5 3,2
14 Dwi Nurhayati, SPd AUD 2,6 2,7
15 Ika Rahmawati, MPd 2,3 2,4

 

Kenyataan di lapangan masih ada guru – guru yang belum melaksanakan tugasnya dengan baik dalam kedisiplinan misalnya hadir masih terlambat, sehingga penataan lingkungan main tergesa – gesa / kemrungsung dan masih ada guru yang belum menguasai penyusunan kurikulum operasional yang dibutuhkan sebagai acuan kegiatan belajar mengajar di PAUD Terpadu Islam Diponegoro. Hal ini berakibat pula terhadap pengembangan karakter anak – anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.  Situasi saat berdo’a bersama, situasi di kelas, serta

Keadaan ruang kelas dan depan ruang kelas

 

Gambar di atas menggambarkan masih minimnya pendidikan karakter peserta didik yang ada di PTI Diponegoro; dari penilaian terhadap penegemnangan karakter (religius, kemandirian dan tanggungjawab) masih sebesar 70% anak didik dari masing – masing rombongan belajar mendapat kriteria tidak tuntas (TT)/BB (belum muncul) dan MB (mulai muncul); sedangkan yang telah tuntas (T)/ BSH (sesuai harapan) dan BSB (sangat baik) hanya sekitar 30% nya.

Tabel 2. Nilai siswa dilihat dari pengembangan karakter

(religius, kemandirian dan tanggungjawab)

Sumber : Dokumen penilaian anak didik PTI Diponegoro

Kelas Jml anak Religius Kemandirian Tanggungjawab
BT TT BT TT BT TT
Ar Rahman 15 11 4 10 5 10 5
Ar Rahim 15 10 5 11 4 10 5
Al Alim 17 11 6 12 5 11 6
An Nur 17 12 5 11 6 11 6
Al Fattah 17 11 6 11 6 12 5
Ar Rozaq 16 11 5 11 5 12 4
Al Bashir 19 13 6 12 7 13 6
Al Qalam 19 13 6 13 6 12 7
As Sami’ 19 12 7 13 6 13 6

 

Melihat kenyataan diatas, penerapan Manajemen PAUD yang baik  sangat dibutuhkan di PAUD Terpadu Islam Diponegoro. Penyelenggaraan program di lembaga PTI Diponegoro sangat tergantung pada cara kepala PAUD dalam memaksimalkan potensi lingkungan terutama orangtua dan guru PAUD yang bersentuhan langsung dengan anak didik, maupun tokoh masyarakat, sehingga harapan untuk membangun karakter positif anak dapat terwujud melalui peningkatan kwalitas SDM (guru PAUD) dalam memberikan pelayanan pada anak usia dini di PTI Diponegoro.

Melihat kenyataan dan harapan yang ada, penyusun memiliki sebuah strategi yaitu strategi “Tepa Tuladha”.

Tepa Tuladha merupakan akronim dari penyelenggaraan program In House Training, kode etik dan SOP, spiritual teaching, evaluasi kinerja dan perilaku kerja serta reward dan  punishment.

 

  1. Tujuan

Adapun tujuan disusunnya karya nyata ini :

  1. Mendeskripsi strategi pengelolaan TEPA TULADHA untuk meningkatkan kinerja dan perilaku kerja guru dalam melayani anak usia dini sehingga terbentuk karakter peserta didik.
  2. Mendeskripsi hasil dan dampak strategi pengelolaan TEPA TULADHA untuk meningkatkan profesionalitas guru dalam melayani anak usia dini sehingga terbentuk karakter peserta didik.

 

  1. Manfaat

Manfaat yang dapat di ambil dari penyusunan karya nyata ini :

  1. Sesama GTK PAUD dan Dikmas;

Meningkatnya kompetensi GTK PAUD Dikmas dalam melayani anak usia dini yang ada di lembaga PAUD secara profesional sehingga terbentuk karakter peserta didik yang kuat.

  1. Satuan PAUD dan Dikmas;
    1. Terwujudnya lembaga PAUD yang bermutu tinggi dan berkwalitas.
    2. Eksistensi dan keberlangsungan lembaga PAUD yang semakin kuat.
  2. Orang tua warga belajar dan masyarakat;
    1. Terpenuhinya keinginan orangtua dan masyarakat agar putra putrinya mendapatlan pelayanan terbaik dari lembaga PAUD sehingga terbentuk karakter positif
    2. Meningkatnya minat orangtua dan masyarakat terhadap lembaga PAUD untuk pendidikan anak usia dini meraka.
  3. Pemerintah dan Pemerintah Daerah :

Terwujudnya PAUD berkwalitas sesuai kebijakan pemerintah terutama Dinas Pendidikan Anak Usa Dini (Bidang PAUD dan Dikmas).

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Konsep Strategi Pengelolaan Tepa Tuladha.

Adapun konsep Pengelolaan Tepa Tuladha. Meliputi program :

  1. IHT (In House Training)

IHT (In House Training)  adalah pelatihan yang dilaksanakan secara internal di lembaga, sekolah atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan. Strategi pembinaan melalui IHT dilakukan dengan dasar bahwa sebagian kemampuan dalam meningkatkan kompetensi dan karir guru tidak harus dilakukan secara eksternal, tetapi dapat dilakukan internal.

IHT juga merupakan suatu pelatihan internal yang diprakarsai oleh kepala PAUD yang melibatkan seluruh stakeholder terutama bagi guru PAUD Terpadu Islam Diponegoro  yang dijadwalkan secara berkala dimana topik bahasannya disesuaikan untuk meningkatkan profesionalitas mereka dalam membangun karakter anak didik. IHT dapat dilaksanakan dengan narasumber kepala PAUD atau oleh guru yang memiliki kompetensi lebih kepada guru lain yang belum memiliki kompetensi.

Selain itu, IHT lebih bagus dilaksanakan dengan memberdayakan potensi lingkungan dengan mendatangkan narasumber pakar baik dari Dinas Pendidkan, akademisi maupun praktisi. yang dinilai kompeten untuk bersama – sama membahas materi untuk meningkatkan profesionalitas guru PAUD terutama dalam membangun karakter anak didik.

Maksud dan tujuan diselenggarakannya IHT adalah untuk meningkatkan profesionalitas guru PAUD Terpadu Islam Diponegoro melalui penjabaran kompetensi yang diamanatkan permendikbud No. 137 tahun 2014; sebagai berikut:

  1. Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan psikologis anak, sesuai dengan norma, agama, budaya dan keyakinan anak, dan menampilkan diri sebagai pribadi yang berbudi pekerti luhur. Pendidik yang memiliki kompetensi kepribadian ditunjukkan melalui tingkah laku yaitu menyayangi anak secara tulus, berperilaku sabar, tenang, ceria, serta penuh perhatian; memiliki kepekaan, responsif dan humoris terhadap perilaku anak; menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif dan bijaksana; berpenampilan bersih, sehat dan rapi; berperilaku sopan santun, menghargai dan melindungi anak; menghargai anak tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, budaya dan jender; bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat; mengembangkan sikap anak didik untuk menghargai agama dan budaya lain; berperilaku jujur; bertanggung jawab terhadap tugas; berperilaku sebagai teladan.
  2. Kompetensi profesional terkait dengan kemampuan untuk memahami tahapan perkembangan anak, pertumbuhan dan perkembangan anak, kemampuan untuk memberikan rangsangan pendidikan, pengasuhan dan perlindungan, dan kemampuan untuk membangun kerjasama dengan orang tua dalam pendidikan, pengasuhan dan perlindungan anak. Kompetensi ini ditunjukkan dalam bentuk kemampuan pendidik dalam memahami kesinambungan tingkat perkembangan anak usia 0-6 tahun; memahami standar tingkat pencapaian perkembangan anak; memahami bahwa setiap anak mempunyai tingkat kecepatan pencapaian perkembangan yang berbeda; memahami faktor penghambat dan pendukung tingkat pencapaian perkembangan; memahami aspek-aspek perkembangan; memahami faktor yang menghambat dan mendukung aspek perkembangan tersebut; memahami tanda-tanda kelainan pada setiap aspek perkembangan anak; mengenal kebutuhan gizi anak sesuai dengan usia; memahami cara memantau nutrisi, kesehatan dan keselamatan anak; mengetahui pola asuh yang sesuai dengan usia anak; mengenal keunikan anak; mengenal cara-cara pemberian rangsangan dalam pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan secara umum; memiliki keterampilan dalam melakukan pemberian rangsangan pada setiap aspek perkembangan; mengenal faktor-faktor pengasuhan anak; mengkomunikasikan program lembaga kepada orang tua; meningkatkan keterlibatan orang tua dalam program di lembaga; meningkatkan kesinambungan program lembaga dengan lingkungan keluarga.
  3. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang terkait dengan merencanakan kegiatan program pendidikan, pengasuhan dan perlindungan, melaksanakan proses dan melaksanakan penilaian terhadap proses dan hasil pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan. Kemampuan ini ditunjukkan dalam bentuk kemampuan pendidik dalam menyusun rencana kegiatan tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan harian; menetapkan kegiatan bermain yang mendukung tingkat pencapaian perkembangan anak; merencanakan kegiatan yang disusun berdasarkan kelompok usia; mengelola kegiatan sesuai dengan rencana yang disusun berdasarkan kelompok usia; menggunakan metode pembelajaran melalui bermain sesuai dengan karakteristik anak; memilih dan menggunakan media yang sesuai dengan kegiatan dan kondisi anak; memberikan motivasi untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan; dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan anak; memilih cara-cara penilaian yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai; melakukan kegiatan penilaian sesuai dengan cara-cara yang telah ditetapkan; mengelolah hasil penilaian; menggunakan hasil penilaian untuk berbagai kepentingan pendidikan; mendokumentasikan hasil-hasil penilaian.
  4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam beradaptasi dengan lingkungan dan berkomunikasi secara efektif dengan anak didik, dan orang tua. Kompetensi ini ditunjukkan melalui kemampuan pendidik dalam menyesuaikan diri dengan teman sejawat; menaati aturan lembaga; menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar; akomodatif terhadap anak didik, orang tua, teman sejawat dari berbagai latar belakang budaya dan sosial ekonomi; berkomunikasi secara empatik dengan orang tua peserta didik; dan berkomunikasi secara efektif dengan anak didik, baik secara fisik, verbal dan nonverbal.

Jika empat kempetensi di atas sudah terpenuhi maka guru dapat dikatakan menjalankan tugasnya secara profesional; hal ini akan berbanding lurus dengan pembentukan karakter peseta didik.

 

  1. Penerapan  Kode Etik dan SOP

Kode etik Guru Indonesia yang ditetapkan pada konggres PGRI ke 13 pada tahun 1973 harus menjadi landasan utama dalam pengembangan profesionalitas guru yang selanjutnya berimbas pada penguatan karakter anak – anak.  Guru PAUD juga merupakan bagian dari keluarga besar guru yang memiliki kewajiban menjunjung tinggi kode etik guru. Kode etik guru terdapat pada lampiran 3.

SOP atau standar operasional prosedur adalah dokumen yang berkaitan dengan prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang paling efektif.

Kode etik guru dan SOP harus diimplementasikan oleh guru PTI Diponegoro dalam melayani dan mendidik anak usia dini sehingga karakter anak dapat dibangun dengan mudah.

 

 

  1. Program Spiritual Teaching

Strategi spiritual teaching adalah sebuah proses penyampaian dan penanaman pengetahuan atau keterampilan yang berkaitan dengan interaksi guru PTI Diponegoro dalam kerangka pengabdian kepada Allah sebagai sang Maha Pemilik Ilmu, yang Maha Tahu yang selalu melihat praktek guru dalam membina anak didiknya dengan pendekatan spiritual, dengan cara mencintai profesi dan anak didiknya.

Seorang guru yang dikatakan cerdas, profesional dan bermakna tidak hanya memberikan atau menyampaikan pengetahuan (transfer of knowledge) tapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai moral sehingga mampu mendidik sikap dan perilaku peserta didik menjadi lebih baik (transfer of value).

Spiritual teaching atau pendidikan  spiritual adalah  penguatan kekuatan spiritual  bagi  diri  seseorang (dalam hal ini guru PAUD);  sebagai  bentuk pemenuhan kebutuhan naluriah beragama mereka, menata  sifat  mereka  dengan  tata  krama  dan  meningkatkan kecenderungan  mereka,  serta  mengarahkan  mereka  pada  nila-nilai spiritual, prinsip, dan suri tauladan yang bisa mereka dapatkan.

  1. Program Evaluasi kinerja dan perilaku kerja

Sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan terutama dalam membentuk karakter anak, maka perlu dilakukan evaluasi kinerja dan perilaku kerja guru di PAUD Terpadu Islam Diponegoro.

Evaluasi yang baik adalah yang memberikan dampak positif pada perkembangan program, dalam hal ini pembentukan karakter anak didik dengan pelayanan profesional oleh guru PAUD yang ada PTI Diponegoro. Evaluasi terhadap guru dilakukan bersama antara kepala sekolah, pihak yayasan maupun orangtua dalam rangka membawa perubahan yang baik/positif bagi guru, lembaga maupun kepada siswa.

  1. Program Reward dan punishment

Kepala PAUD perlu menerapkan program Reward and Punishment. Di dalam metode Reward and Punishment, terdapat dua langkah. Reward merupakan pemberian hadiah yang bertujuan untuk memberikan penguatan terhadap perilaku yang baik. Hadiah merupakan bentuk motivasi sebagai penghargaan atas perilaku yang baik/sesuai. Sedangkan punishment adalah pemberian hukuman yang bertujuan untuk mengubah dan memotivasi guru, sehingga guru berusaha menjauhi hukuman yang sudah ditentukan terlebih dahulu.

Terdapat beberapa prinsip pemberian hadiah / reward yang harus diketahui kepala PAUD : Penilaian didasarkan pada perilaku bukan pelaku,  hadiah / reward tidak harus berupa materi. Sedangkan pemberian hukuman : Kepercayaan didahulukan, kemudian hukuman; Menghukum tanpa emosi; Hukuman/ punishment sudah disepakati dan harus bersifat mendidik.

  1. Implementasi Strategi Pengelolaan TEPA TULADHA

Implementasi Strategi Pengelolaan yang dilaksanakan dalam karya nyata ini meliputi beberapa langkah;  yaitu :

  1. Identifikasi Kebutuhan

Identifikasi kebutuhan merupakan langkah saintifik yaitu menanya. Identifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi guru ini dilaksanakan melalui pengisian instrumen kebuuhan peningkatan kompetensi (salinan terdapat pada lampiran 4).

 

Gambar 2. Guru

PTI Diponegoro

mengisi instrumen

 

  1. Mengadakan FGD / Forum Group Disscussion bersama teman- teman TIM MINATI MERIT, Penilik PAUD, Ketua HIMPAUDI Kota Surakarta, bersama penyelenggara ( Yayasan Pendidikan Isalam Diponegoro ) dan guru PAUD.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3 kegiatan FGD Sebagai langkah sainstifik (pengumpulan informasi)

 

 

 

 

  1. Penyusunan jadwal program IHT berdasarkan hasil pengisian instrumen identifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi oleh guru – guru PTI Diponegoro. Jadwal IHT terdapat pada lampiran 5
  2. Penyusunan jadwal supervisi dan evaluasi kinerja serta perilaku kerja guru. Jadwal terdapat pada lampiran 6.

 

Adapun langkah selanjutnya dalam strategi TEPA TULADHA sebagai langkah saintifik mengkomunikasikan yaitu:

  1. Pelaksanaan IHT (In House training)

IHTuntuk semua guru PTI Diponegoro dilaksanakan sesuai jadwal yang telah disusun per triwulan.

Adapun jurnal IHT terdapat pada lampiran  7.

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.IHTbersama UMMI                Ganbar 5. IHT bersama Ketua IGTKI

Foundation Cab Surakarta                       Kota Surakarta

 

Gambar 6. IHT melalui Coaching oleh Kepsek

 

  1. Penerapan kode etik dan SOP Guru PTI Diponegoro

Penerapan kode etik dan SOP yang dilakukan kepala PAUD antara lain:dengan memimpin apel pagi sebagai pemacu semangat / motivasi untuk guru dan karyawan, juga mendelegasikan tugas – tugas pada hari tersebut jika pengelola harus meninggalkan lembaga. Begitu pula  ketika ada guru yang terpaksa tidak hadir, saat apel pagi pengelola PAUD dapat menunjuk guru lain untuk melaksanakan tugas guru yang bersangkutan sehingga tugas profesional dalam melayani peserta didik tetap terlaksana dengan baik.

Kegiatan apel pagi juga meminimalisir keterlambatan kehadiran guru di PAUD Terpadu Islam Diponegoro.

 

 

 

 

Gambar 7. Apel Pagi

Pengelola PAUD membuat dan menempelkan slogan sebagai motivasi dan selalu mengingatkan guru agar bisa menjadi tauladan bagi anak didik (terdapat pada lampiran 8).

Pengelola PAUD juga mewajibkan semua guru masuk dan menjadi anggota aktif  organisasi profesi.

Adapun salinan SOP dan standar pelayanan PTI Diponegoro terdapat pada lampiran 9 dan 10.

  1. Program Spiritual teaching di PTI Diponegoro

Setiap dua minggu sekali guru – guru mengikuti pengajian yang di adakan oleh yayasan yang menghadirkan narasumber tokoh masyarakat (ulama’) juga mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan oleh PADMAH (Perkumpulan Pendidik Anak Usia Dini  Muslimah) Kota Surakarta yang dimotori oleh Ibu Kasi PAUD dan Pendidikan Keluarga. Kepala PAUD memberikan informasi dan memotivasi agar semua guru mengikuti dengan baik.

 

 

 

 

Gambar 8. Kegiatan spiritual teaching bersama  PADMAH dan Ulama’ Solo (oleh Yayasan)

  1. Evaluasi kinerja dan perilku kerja guru PTI Diponegoro

Langkah ini merupakan langkah saintifik yang dilakukan oleh kepala PAUD, berkolaborasi dengan orangtua siswa dengan mengamati. Kepala PAUD melakukan observasi melalui lembar evaluasi. Adapun lembar observasi terdapat pada lampiran 11; untuk orangtua siswa, pihak lembaga PTI Diponegoro membagikan instrumen penilaian kepada orangtua untuk di isi dan dikembalikan ke lembaga. Adapun salinan lembar instrumen (angket) untuk orangtua murid terdapatpada lampiran 12.

 

 

 

 

 

Gambar 9. Kepala PAUD melaksanakan evaluasi kinerja dan perilaku kerja guru

 

  1. Pemberian reward dan punishment

Setelah langkah evaluasi kinerja dan perialku kerja dilaksanakan kepala PAUD selanjutnya diberikan reward kepada guru yang memiliki nilai tertinggi setiap semesternya dengan memajang foto di pigura diberi tulisan guru terbaik pada semester tersebut juga dan di pajang di area PAUD. Guru – guru yang belum memenuhi standar diminta oleh kepala PAUD untuk membuat  APE sebagai media pembelajaran yang dibuat dari bahan limbah plastik yang ada d lingkungan PTI Diponegoro dan setiap semester diminta untuk menciptakan kreatifitas media interaktif (misalnya lagu, tepuk, syair ) untuk anak didik yang dapat membentuk karakter anak.

 

 

 

 

 

Gambar 10. Reward dan hasil punishment

Langkah berikutnya dilaksanakan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan dari penerapan manajemen dengan pengamatan serta penilaian. Tujuan evaluasi ini untuk menilai apakah ada peningkatan profesionalitas guru PAUD yang berbanding lurus dengan perubahan karakter peserta didik ke arah yang lebih baik di PTI Diponegoro setelah penerapan strategi manajemen TEPA TULADHA dilaksanakan.

 

  1. Hasil yang Dicapai

Adapun hasil yang dicapai dari pelaksanan strategi TEPA TULADHA antara lain :

  1. Kedisiplinan

Terciptanya kedisiplinan dalam melaksanakan tugas; yang antara lain dapat dilihat dari kehadiran guru di lembaga P.T.I Diponegoro.

Sumber         : Dokumen buku presensi PTI Diponegoro

Gambar 12: Rekapitulasi presensi guru 17/18 dan 18/19

 

  1. Kinerja dan perilaku kerja guru PTI Diponegoro

Secara bertahap hasil atau nilai guru semakin meningkat. Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil obsrvasi dan evaluasi kinerja guru dan perilaku kerja baik supervisi pembelajaran maupun pemantauan empat kompetensi guru secara berkala (tiga bulan sekali / per tri wulan.

Dalam bentuk grafik batang dapat penyusun sampaikan data sebagai berikut :

Sumber           : Dokumen penilaian kinerja dan perilaku kerja  PTI Diponegoro

Gambar 13 : Rekapitulasi nilai guru 17/18 dan 18/19

 

  1. Karakter peserta didik di PTI Diponegoro

Terlihat adanya perubahan karakter anak dalam pelaksanaan kegiatan di PAUD terpadu Islam Diponegoro antara lain saat berdo’a, mau meletakkan sesuatu di tempatnya, antri bersalaman dengan guru ketika pulang.

 

 

 

Gambar 13. Perubahan karakter anak didik

 

  1. Jumlah Peserta didik

Semenjak penerapan startegi TEPA TULADAHA dilaksanakan dengan konsisten, jumlah murid di PTI Diponegoro semakin meningkat dari tahun pembelajaran ke tahun pembelajaran. Dalam bentuk grafik berikut penyusun sajikan.

Sumber          : Dokumen data siswa  PTI Diponegoro

Gambar 14 :Jumlah Siswa Tahun Pelajaran 2016/2017 Sampai 2018/2019

 

 

  1. Dampak Implementasi Strategi Pengelolaan

Dampak yang timbul setelah penerapan strategi TEPA TULADHA, dapat dirasakan lembaga PAUD, dan masyarakat serta lembaga PAUD lainnya.

  1. Lembaga PAUD Terpadu Islam

Semakin meningkatnya kinerja dan perilaku kerja  guru PAUD yang ada di PTI Diponegoro yang berimbas pada pembentukan karakter anak didik menimbulkan dampak eksitensi dan keberlangsunagan lembaga PTI Diponegoro semakin kuat.

  1. Masyarakat

Meningkatnya mutu pelayanan terhadap Pendidikan anak usia dini dalam proses kegiatan belajar yang dilaksanakan secara profesional (memenuhi 4 kompetensi yang harus dikuasai) oleh guru yang ada di PTI Diponegoro dalam membentuk karakter anak didik, sehingga masyarakat sekitar merasa nyaman menitipkan pendidikan anak usia dininya tidak perlu jauh – jauh mencari PAUD yang berkwalitas.

  1. Lembaga PAUD yang lain

PTI Diponegoro menjadi tujuan untuk menimba pengetahuan tentang manjemen PAUD, dalam bentuk sarasehan / silaturromi maupun melalui studi banding. PTI Diponegoro menerima tamu studi banding dari beberapa lembaga PAUD  yang tergabung dalam IGTKM (Ikatan Guru TK Muslimat) Bangil Jawa Timur. Adapun surat permohonannya terdapat pada lampiran 13.

 

 

 

 

 

 

Gambar 15. Menerima kunjungan dari KB/TK AT Bintangku dan Studi banding dari Bangil Jawa Timur

 

  1. Kendala dan Solusi

Kendala yang dihadapi dalam penerapan manajemen TEPA TULADHA :

  1. Minimnya keinginan pengelola PAUD dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya secara intens.
  2. Masih adanya pengelola PAUD yang pengetahuannya dalam menerapkan manjemen masih terbatas.
  3. Keterbatasan waktu guru yang terkadang ada hal – hal yang harus diselesaikan terkait urusan keluarga masing – masing.

Solusi yang dapat diberikan :

  1. Melalui pertemuan – pertemuan misalnya KKG para pengelola diberi dorongan agar memiliki semangat dalam mengelola lembaga PAUD dan menekankan bahwa menjadi pengelola adalah tidak sekedar jabatan yang menempel namun harus benar-benar dilaksanakan dengan baik. Amanat menjadi pengelola harus dianggap sebagai amanat dari Allah SWT melalui orangtua siswa/siswi dan dilaksanakan secara istiqomah.
  2. Dalam petemuan KKG kecamatan perlu ada sosialisasi tentang strategi yang harus dilakukan pengelola PAUD; antara lain TEPA TULADHA.
  3. Meminta dukungan moral dari keluarga guru PAUD dalam rangka meningkatkan profesionalitas kinerjanya dan perilaku kerjanya sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik yang berimbas pada pembentukan karakter positif untuk peserta didik.

 

  1. Faktor-faktor Pendukung

Faktor internal :

  1. Keinginan dari semua guru yang ada di lembaga PAUD untuk selalu memberikan pelayanan professional.
  2. Tekad dan kemampuan dari kepala PAUD untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara kaffah.

Faktor eksternal :

  1. Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan anak usia dini bahwa yang diharapkan terutama di Kota Surakarta bahwa tidak lagi kwantitas lembaga PAUD yang dibutuhkan, namun lebih pada kwalitas yang ditekankan.
  2. Dukungan Yayasan melalui kegiatan – kegiatan bersama dalam rangka meningkatkan kwalitas SDM, yang brimbas pada pembentukan karakter avak didik.
  3. Keinginan masyarakat khusunya orangtua anak usia PAUD agar anaknya mendapatkan layanan pendidikan secara professional (selektif dalam memilihkan lembaga PAUD untuk putra – putrinya); sehingga lembaga PAUD berusaha terus meningkatkan kwalitas layanannya untuk anak usia dini yang ada di lembaga PAUD masing – masing.
  4. Pengembangan

Alternatif pengembangan dalam pelaksanaan Strategi TEPA TULADHA  antara lain:

  1. Mensosialisasikan strategi TEPA TULADHA di tingkat kecamatan dan kota melalui pertemuan gugus maupun pertemuan organisasi mitra (GTKI, HIMPAUDI serta PKG). Adapun salinan undangan sebagai narsumber terdapat pada lampiran 14 dan 15

 

 

 

 

 

 

Gambar 16  : Sosialisasi  TEPA TULADHA

  1. Memperluas sosialisasi strategi TEPA TULADHA melalui media social, internet.
  2. Menjadikan strategi TEPA TULADHA sebagai referensi pengembangan Lembaga PAUD kearah yang lebih
  3. Menyusun buku tentang pengelolaan PAUD melalui strategi TEPA TULADHA.
  4. Mendapatkan kepercayaan Dinas untuk bergabung sebagai salah satu anggota TIM MINATI MERIT (Tim Pembinaan dan Pembimbingan Intensif Menuju Akreditasi) salinan surat undangan terdapat padalampiran 16.
  5. Mendapatkan tugas sebagai narasumber kursus pendidik PAUD di SKB. (salinan undangan terdapat pada lampiran 17.
  6. Mendapatkan amanah dari Dinas Pendidikan sebagai anggota tim Sahabat Keluarga (Bina Pendidikan Keluarga)
  7. Mendapatkan amanah sebagai asesor PAUD dan PNF Provinsi JawaTengah 2018.

 

 

 

 

 

Gambar 17. Visitasi akreditasi

 

  1. Ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Kota Surakarta mengikuti Diklat PCP Guru PAUD tingkat Nasional.Adapun salinan surat keterangan terdapat pada lampiran 18.

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan
    1. TEPA TULADHA merupakan akronim dari program  IHT, Kode Etik, SOP , Spiritual Teaching, Evaluasi kinerja dan perilaku serta reward/punishment dalam menerapkan strategi manajemen yang melibatkan potensi lingkungan internal maupun eksternal untuk meningkatkan kinerja dan perilaku kerja guru PAUD yang akan berimbas pada pembentukan karakter anak.
    2. Keinovasian  TEPA TULADHA: tidak perlu ada anggaran besar yang harus dipersiapkan. Selain itu strategi ini mudah diadopsi oleh lembaga PAUD
    3. Hasil dan dampak penerapan strategi ini adalah meningkatnya kinerja dan perilaku kerja guru yang sebanding lurus dengan pembangunan karakter anak didik dan berdampak positif bagi dunia PAUD dan masyarakat.
  2. Rekomendasi
    1. Pengelola PAUD, agar menerapkan strategi TEPA TULADHA dilembaga masing – masing agar dapat memberikan pelayanan terbaik bagi anak usia dini yang ada di lembaga PAUD masing – masing, sehingga terbentuk karakter kuat peserta didik.
    2. Penyelenggara  program PAUD,  dapat melakukan pengawasan terhadap pengelola lembaga PAUD; apakah sudah benar – benar melaksanakan tupoksi dan  agar melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik – baiknya; antara lain dengan penerapan strategi TEPA TULADHA.
    3. Orang tua / Masyarakat, diharapkan untuk selalu mengikuti perkembagan pendidikan anak usia dininya, sehingga hak-hak anak usia 0 – 6 tahun dapat terpenuhi dengan baik dan bisa terbentuk karakter yang kuat.
    4. Dinas Pendidikan agar terus melaksanakan pembinaan terhadap semua lembaga PAUD agar pembentukan karakter anak didik dapat trealisasi, juga mengadakan pelatihan manjemen pengelolaan PAUD dengan strategi TEPA TULADHA.

 

 

Leave a Reply