Anak adalah anugerah terindah untuk kita dari Sang Maha Pencipta. Anak merupakan dambaan dan harapan setiap ayah bunda, mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya. Buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, investasi masa depan, investasi pelindung orang tua ketika mereka telah lanjut usia.

Banyak sekali orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalihah karena, do’a anak shaleh dan shalihah akan menjadi amalan yang terus mengalir terlebih ketika kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Jika anak Adam meninggal dunia terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara yaitu : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim).

Anak sangat membutuhkan bimbingan orang dewasa terutama kedua orang tuanya supaya anak dapat berkembang sesuai dengan fitrohnya, dan sesuai dengan usianya terkait tahapan pekembangannya juga.

Ada beberapa pandangan pandangan Al-Quran tentang anak, yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak :

  1. Anak sebagai Amanah bagi Orangtuanya

Selayaknya orang – orang  bijak mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita; mereka adalah titipan dari Allah kepada kita. Amanah harus dijaga dengan baik. Sebagaimana Allah perintahkan dalam Surat al Anfal ayat 27 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga anak kita yang merupakan amanah teindah dari Allah SWT sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Jadi, adalah kesalahan bagi orang tua apabila seorang anak jauh dari ajaran Islam.

  1. Anak sebagai Generasi Penerus

Anak adalah harapan di masa depan; merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi kita mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mereka dari api neraka kelak. Sebagaimana Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:ayat 6]

      3.  Anak adalah Tabungan Amal Kita di Akhirat

Seperti telah kita tahu, bahwa selain amal kita di dunia, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari penghitungan kelak.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jadi, mendidik anak sesuai perintah Allah tetaplah merupakan keuntungan bagi diri kita juga pada akhirnya.

  1.  Anak adalah Perhiasan Dunia bagi Orang Tuanya

Anak adalah perhiasan bagi orang tua. Di satu sisi, ia akan menjadi penghibur di kala lelah dan kesusahan melanda, namun di satu sisi, ia juga dapat menggelincirkan dari jalan Allah. Perhatikan Q.S. Al Kahfi 18 : 46 yang bunyinya :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Artinya : Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Dari uraian diatas; Maka sebagai orangtua dan orang dewasa yang ada di sekitar anak (dalam hal ini salah satunya adalah guru PAUD) dapat mewujudkan anak – anak sebagai perhiasan yang memberikan harapan terbaik dengan cara  “membahagiakan anak dengan Islam”; yaitu dengan cara  mengenalkan Allah SWT  sejak dini.

 

Adapun beberapa tahapan untuk mendidik agar anak mengenal Allah  :

1. Memperdengarkan kalimat “Laa Illaaha Illallah” pada saat ia lahir

Kalimat tauhid inilah yang pertama kali harus kita perdengarkan di awal kehidupan anak-anak kita. Sehingga kalimat itu membekas dan menjadi cahaya di dalam  hati mereka.

Ketika anak – anak lahir, sesuai ajaran Rasulullah SAW sang ayah memperdengarkan lafadz adzan di telinga kanan dan lafadz Iqamat di telinga kiri anakmya.

Selanjutnya sang  ibu yang biasanya memiliki waktu lebih banyak bersama anak akan  senantiasa mengajarkan kalimat-kalimat tersebut. Karena suara ibu sangat istimewa dan berbeda dari suara-suara yang lain bagi anaknya. Bahkan menurut penelitian para ahli, cara ibu berbicara atau berucap, akan lebih menguatkan pesan pada diri anak.

 2. Memperkenalkan Sifat-sifat Allah Kepada Anak

Mengajak anak mengenal Allah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah; terlebih kepada balita, dimana konsep pemikiran mereka masih segala sesuatu yang bersifat konkret. Untuk itu penjelasan yang diberikan juga harus dimulai dari hal-hal yang sifatnya konkret, menuju abstrak. Untuk membuat anak – anak  mengerti sekaligus memahami bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu yang ada di bumi ini; bahwa kasih sayang Allah sangat besar; ajak anak untuk menikmati angin yang bertiup sebagai wujud kasih sayang Allah. Jangan pernah memberikan kalimat atau bahasa negative tentang Allah SWT.

 

Ketika kita melihat anak berbuat yang kurang baik, kita bisa katakan :

”Nak…. jika kamu begitu nanti kasih sayang Allah akan berkurang“

 

JANGAN PERNAH KATAKAN :   ” Jika kamu begitu Allah akan marah kepadamu”  

Misalkan ketika anak sakit maka kita dapat mengatakan : 

“Kakak minum obat dulu, ya. Setelah itu berdoa kepada Allah, semoga Allah SWT segera menyembuhkan Kakak.”

Selain itu mengenalkan Allah melalui sifat, dan namanya juga dapat dilakukan melalui kegiatan memperdengarkan dan menirukan “ 99 nama dan sifat Allah”; serta dongeng tentang “ 99 nama dan sifat Allah”.

 

3. Mengajaknya untuk Melakukan Shalat Sedari Kecil

Shalat adalah sarana kita untuk berhubungan (berkomunikasi) dengan Allah. Karena itu wajib bagi orang tua Muslim untuk mengajarkannya semenjak dini. Seorang ibu yang hamil dan senantiasa menjaga waktu-waktu shalat, sebetulnyalah telah mengajarkan shalat kepada calon anaknya kelak.

Setelah anak lahir, kita dapat mendudukannya atau mengajaknya shalat bersama. Bagi balita terlebih batita, terkadang hal ini sulit dilakukan karena biasanya mereka akan bosan berdiam diri dalam waktu yang cukup lama. Hal seperti ini tidak perlu dipermasalahkan, tetaplah telaten mengajaknya. Yang penting mereka melihat kita shalat tepat waktu lima kali dalam sehari semenjak dini. Ketika mereka berusia 2 tahun kita dapat mengenalkan shalat kepada mereka melalui dongeng, dan kemudian secara bertahap sesuai perkembangan usianya kita kenalkan kepada anak- anak  cara berwudhu, shalat berjamaah dan seterusnya.

4. Mengajak Anak untuk Mengenal Diri dan Lingkungannya Serta Mensyukuri Nikmat yang Telah Allah Berikan

Dalam suasana santai kita juga dapat mengajak anak untuk mengenal Allah. Seperti ketika mengajarkan anak untuk mengenal bagian-bagian tubuhnya; maka kita dapat mengatakan :

“Subhanallah, Allah memang Maha Sempurna, ya, lihat tangan dan kaki adik Allah bentuk dengan begitu sempurna,”

Atau mengajaknya bersyukur karena memiliki rumah. Hal-hal sekecil apapun dapat kita kaitkan dengan mensyukuri, momen-momen yang menggembirakan anak, juga dapat kita gunakan sebagai sarana untuk mengenalkan anak kepada Allah.

5. Allah Dulu, Allah Lagi, dan Allah Terus

Seperti yang Ustadz Yusuf Mansur sering ajarkan dalam setiap dakwahnya; apabila kita menginginkan sesuatu atau memiliki sebuah cita-cita; maka alangkah baiknya jika di awal kita “ceritakan” keinginan tersebut kepada Allah. Tujuannya agar Allah meridhoi dan memudahkan jalan kita. Setelah itu, sebelum melakukan ikhtiar, jangan lupa untuk berdoa terlebih dahulu. Dan kemudian iringi usaha tersebut dengan kepasrahan akan hasil terbaik menurut Allah SWT.

Jika kita senantiasa melakukan hal di atas, secara tidak langsung anak pun akan belajar untuk selalu menyertakan Allah disetiap keinginnanya. Kita juga dapat membiasakan berucap “Insya Allah” saat anak-anak  meminta kita untuk membelikannya mainan misalnya, atau mengajak anak berdoa ketika ia menginginkan sesuatu. Misalnya dapat kita katakan :  

“Ayo… kita berdoa kepada Allah Nak, mudah – mudahan Allah SWT memudahkan dan menambah rejeki ayah dan ibu, sehingga ayah dan bisa segera membelikan mainan yang adik inginkan.”

 

Artikel ini dibuat dengan penuh cinta dari Abdi Allah SWT yaitu : Bunda Fatimah., SPd AUD.

Beliau adalah Kepala Sekolah PAUD Terpadu Islam Diponegoro Surakarta.

Bunda Fatimah., SPd AUD (Kepala PAUD Terpadu Islam Diponegoro Surakarta)

PAUD Terpadu Islam Diponegoro Surakarta Selalu Berusaha Membahagiakan Anak Didik dengan Islam.

 

Source :

http://kd-tasikmalaya.upi.edu/artikel_definisi-anak-dalam-perspektif-islam_

https://id.theasianparent.com/mengajak-anak-mengenal-allah

Leave a Reply

 

Serahkan Pendidikan Anak Anda Kepada Ahlinya