CALL CENTER
HUMAS YPID
0878 3636 4848
info@ypid.or.id

Anakmu Rangking Berapa?

Saat-saat penerimaan raport/laporan hasil belajar siswa pertanyaan seperti judul diatas sudah sering
kita dengar. Ada juga pertanyaan dari orang tua kepada guru anaknya “Anak saya rangking berapa
pak/bu ?”. Namun meski masih menjadi pro dan kontra, pencantuman rangking / peringkat kelas
dalam raport ternyata sudah semakin ditinggalkan. Hal ini seiring kesadaran berbagai pihak bahwa
pencantuman rangking anak didalam kelas / sekolah lebih banyak madharat daripada manfaatnya.
Selain itu memang harus diakui bahwa selain kurang fair/adil ternyata sangat sulit untuk membuat
perbandingan secara kuantitatif antara satu siswa dengan siswa lainnya yang mencakup keseluruhan
aspek potensi dan kemampuan anak yang sesungguhnya. Misalnya anak yang memiliki kemampuan
yang tinggi dalam bidang matematika atau IPA akan sangat sulit dibandingkan kemampuannya
dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal olahraga atau seni. Padahal
dalam proses pembuatan ranking, semua bidang kemampuan akademik dinilai setara satu sama
lainnya, dan bisa dijumlahkan. Selain itu tidak jarang karena muncul stigma bahwa anak yang pintar
hanya semata-mata diukur oleh rangking dikelasnya, sehingga hal ini sering menimbulkan beban dan
stress tidak hanya bagi siswa namun juga orang tua.
Alhamdulillah pemerintah Indonesia dalam sistem Kurikulum 2013 ini juga sudah menghilangkan
sistem pemberian rangking untuk siswa-siswi dalam belajar di sekolah. Dan dengan sistem penilaian
yang berbentuk deskriptif/uraian bukan lagi numerik/berdasarkan angka-angka didalam raport maka
pemberian rangking juga semakin sulit dilakukan. Meskipun dibeberapa sekolah masih ada yang
tetap memperlakukan sistem rangking dengan alasan-alasan dan kebutuhan tertentu.
Selain itu Singapura sebagai salah satu negara tolok ukur kemajuan pendidikan di dunia bahkan
mulai tahun 2019 ini telah melarang dengan tegas seluruh sekolah dari SD,SMP, SMA dan Perguruan
Tinggi untuk memuat dan membuat rangking siswa dalam bentuk apapun juga. Lebih dari itu
pemberian bantuan dan beasiswa oleh pemerintah kepada siswa-siswi di Singapura kini telah benar-
benar didasarkan pada sikap (attitude) siswa di sekolah dan bukan pada nilai akademiknya.
So,…..abi,umi, ayah, bunda , abah, mamah semua gak perlu bingung lagi ya kalau di raport anak
kita sudah tidak dicantumkan rangking dikelasnya…. Anak harus dihargai apa adanya yaitu sebagai
manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya.
(oleh Humas YPID dari berbagai sumber)

Leave a Reply